Karekteristik Sifat Fisik Tanah Pada Hutan Alam Dan Hutan Tanaman Industri (Hti) Di Desa Petapahan Kabupaten Kampar
Pardomuan, Rahmad
Di Indonesia penyebab terjadinya penurunan fungsi dan kualitas tanah
salah satunya adalah alih guna lahan yang sangat memberikan pengaruh yang
besar terhadap lingkungan dan memberikan dampak yang negatif seperti
kerapatan dan keragaman jenis tanaman yang berkurang. Selain itu penurunan
kualitas tanah juga mempengaruhi komponen didalamnya sebagai tempat tumbuh
dari tanaman. Penurunan fungsi tanah merupakan suatu proses terjadinya
penurunan bahkan hilangnya sumber unsur hara bagi tanaman maupun tempat air
tersimpan. Kerusakan lapisan atas maupun lapisan bawah tanah diduga sangat erat
kaitannya dengan alih guna lahan hutan. Salah satu bentuk alih guna lahan hutan
adalah perubahan penggunaan lahan hutan alam menjadi hutan tanaman industri
(HTI). Alih guna lahan hutan menjadi hutan tanaman industri (HTI) akan
mengakibatkan berkurangnya tanaman penutup tanah sehingga terjadi kerusakan
tanah oleh erosi, berkurangnya bahan organik tanah dan akan berdampak pada
sifat fisik tanah. Karna tanaman penutup tanah itu sendiri memiliki peran untuk
melindungi tanah dari kerusakan erosi dan memperbaiki kondisi tanah. Di Riau
sendiri juga terdapat kawasan hutan tanaman industri (HTI) dan kawasan hutan
alam misalnya di Desa Petapahan Kabupaten Kampar. Disana masih terdapat
kawasan hutan alam yang dijaga oleh Masyarakat adat dengan kearifan lokal yang
mereka miliki yaitu hutan adat Imbo Putui dan juga terdapat kawasan hutan
tanaman industri (HTI) PT. Perawang Sukses Perkasa Industri Distrik Petapahan
yang bersifat monokultur.
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis sifat fisik tanah pada hutan
alam dan hutan tanaman industri (HTI) di Desa Petapahan Kabupaten Kampar
penelitian ini dilakukan dengan menganalisis karakteristik sifat fisik tanah pada
hutan alam dan hutan tanaman industri (HTI) dengan beberapa parameter seperti
warna, bobot isi, tekstur, kadar air, berat jenis partikel dan porositas pada tanah.
tanah diperoleh dari lapangan kemudian di analisis di laboratorium.
Penelitian dilakukan menggunakan metode survei dengan pendekatan
penggunaan lahan yang berbeda yaitu hutan alam di hutan adat Imbo Putui dan
hutan tanaman industri PT Perawang Sukses Perkasa Industri Distrik Petapahan.
Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Purposive Sampling. Pada hutan
alam terdapat 4 titik dimana untuk masing-masing titik berada pada tingkatan
tutupan lahan yang berbeda yaitu lahan bervegetasi, semak belukar, padang
rumput/alang-alang dan lahan terbuka. Sedangkan untuk pengambilan sampel
pada lahan HTI terdapat 4 titik dengan masing-masing titik berada ditingkatan
umur tanaman yang berbeda yaitu tanaman baru ± 2 minggu, 1 tahun, 2 tahun dan
3 tahun. Pada masing-masing titik dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali,
sehingga diperoleh jumlah total sampel tanah utuh sebanyak 24 sampel. Setelah
itu, diambil juga sampel tanah pada setiap titik yang kemudian dikompositkan dan
diambil sampel tanah dengan ditimbang 500 gram/sampel dimasukkan kedalam
plastik yang sudah diberi label. Untuk pengambilan sampel tanah utuh dan
komposit dilakukan pada kondisi tanah dalam keadaan kering.
Berdasarkan dari hasil analisis yang sudah dilakukan pada hutan alam yaitu
hutan adat Imbo Putui dan hutan tanaman industri (HTI) PT. PSPI Distrik
Petapahan dapat disimpulkan bahwa pada parameter warna tanah, terdapat
perbedaan yang terlihat antara hutan alam dan hutan tanaman industri (HTI) dari
berbagai tipe lahan. Secara umum warna tanah pada hutan alam lebih gelap
dibandingkan dengan warna tanah pada HTI yang disebabkan oleh perbedaan
komposisi dari bahan organik pada tanah.
Nilai Bulk Density (Bobot Isi) yang diperolah dalam penelitian ini relatif,
pada hutan alam berkisar antara 0,81 g/cm3
– 1,13 g/cm3
sedangkan untuk HTI
berkisar di angka 1,09 g/cm3
– 1,37 g/cm3
, sehingga dapat dilihat bahwa nilai bobot
isi pada hutan alam ≤ HTI. Untuk tekstur tanah, secara keseluruhan fraksi yang
mendominasi pada semua tipe lahan adalah fraksi pasir, yang mengakibatkan kelas
tanah pada penelitian ini hanya terdapat 3 kelas yaitu lempung berpasir, pasir
berlempung dan pasir.
Untuk nilai kadar air yang diperoleh juga bersifat relatif dimana pada hutan
alam berkisar 24,99% - 37,64% sedangkan pada HTI yaitu 10,95% - 31,41%, nilai
tersebut menunjukkan bahwa persentase kadar air hutan alam ≥ HTI. Dan untuk
nilai berat jenis partikel relatif yaitu hutan alam berkisar antara 2.03 g/cm
3
– 2,46
g/cm3
sedangkan HTI sebesar 2,13 g/cm3
– 2,56 g/cm3
, dapat dilihat bahwa nilai
berat jenis tanah hutan alam ≤ HTI. Kemudian nilai porositas tanah dalam
penelitian ini untuk lahan hutan alam adalah 54,07% – 60,10% dan HTI yaitu
46,48% – 48,83%, nilai persentase tersebut menunjukkan porositas pada lahan
hutan alam ≥ HTI.
salah satunya adalah alih guna lahan yang sangat memberikan pengaruh yang
besar terhadap lingkungan dan memberikan dampak yang negatif seperti
kerapatan dan keragaman jenis tanaman yang berkurang. Selain itu penurunan
kualitas tanah juga mempengaruhi komponen didalamnya sebagai tempat tumbuh
dari tanaman. Penurunan fungsi tanah merupakan suatu proses terjadinya
penurunan bahkan hilangnya sumber unsur hara bagi tanaman maupun tempat air
tersimpan. Kerusakan lapisan atas maupun lapisan bawah tanah diduga sangat erat
kaitannya dengan alih guna lahan hutan. Salah satu bentuk alih guna lahan hutan
adalah perubahan penggunaan lahan hutan alam menjadi hutan tanaman industri
(HTI). Alih guna lahan hutan menjadi hutan tanaman industri (HTI) akan
mengakibatkan berkurangnya tanaman penutup tanah sehingga terjadi kerusakan
tanah oleh erosi, berkurangnya bahan organik tanah dan akan berdampak pada
sifat fisik tanah. Karna tanaman penutup tanah itu sendiri memiliki peran untuk
melindungi tanah dari kerusakan erosi dan memperbaiki kondisi tanah. Di Riau
sendiri juga terdapat kawasan hutan tanaman industri (HTI) dan kawasan hutan
alam misalnya di Desa Petapahan Kabupaten Kampar. Disana masih terdapat
kawasan hutan alam yang dijaga oleh Masyarakat adat dengan kearifan lokal yang
mereka miliki yaitu hutan adat Imbo Putui dan juga terdapat kawasan hutan
tanaman industri (HTI) PT. Perawang Sukses Perkasa Industri Distrik Petapahan
yang bersifat monokultur.
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis sifat fisik tanah pada hutan
alam dan hutan tanaman industri (HTI) di Desa Petapahan Kabupaten Kampar
penelitian ini dilakukan dengan menganalisis karakteristik sifat fisik tanah pada
hutan alam dan hutan tanaman industri (HTI) dengan beberapa parameter seperti
warna, bobot isi, tekstur, kadar air, berat jenis partikel dan porositas pada tanah.
tanah diperoleh dari lapangan kemudian di analisis di laboratorium.
Penelitian dilakukan menggunakan metode survei dengan pendekatan
penggunaan lahan yang berbeda yaitu hutan alam di hutan adat Imbo Putui dan
hutan tanaman industri PT Perawang Sukses Perkasa Industri Distrik Petapahan.
Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Purposive Sampling. Pada hutan
alam terdapat 4 titik dimana untuk masing-masing titik berada pada tingkatan
tutupan lahan yang berbeda yaitu lahan bervegetasi, semak belukar, padang
rumput/alang-alang dan lahan terbuka. Sedangkan untuk pengambilan sampel
pada lahan HTI terdapat 4 titik dengan masing-masing titik berada ditingkatan
umur tanaman yang berbeda yaitu tanaman baru ± 2 minggu, 1 tahun, 2 tahun dan
3 tahun. Pada masing-masing titik dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali,
sehingga diperoleh jumlah total sampel tanah utuh sebanyak 24 sampel. Setelah
itu, diambil juga sampel tanah pada setiap titik yang kemudian dikompositkan dan
diambil sampel tanah dengan ditimbang 500 gram/sampel dimasukkan kedalam
plastik yang sudah diberi label. Untuk pengambilan sampel tanah utuh dan
komposit dilakukan pada kondisi tanah dalam keadaan kering.
Berdasarkan dari hasil analisis yang sudah dilakukan pada hutan alam yaitu
hutan adat Imbo Putui dan hutan tanaman industri (HTI) PT. PSPI Distrik
Petapahan dapat disimpulkan bahwa pada parameter warna tanah, terdapat
perbedaan yang terlihat antara hutan alam dan hutan tanaman industri (HTI) dari
berbagai tipe lahan. Secara umum warna tanah pada hutan alam lebih gelap
dibandingkan dengan warna tanah pada HTI yang disebabkan oleh perbedaan
komposisi dari bahan organik pada tanah.
Nilai Bulk Density (Bobot Isi) yang diperolah dalam penelitian ini relatif,
pada hutan alam berkisar antara 0,81 g/cm3
– 1,13 g/cm3
sedangkan untuk HTI
berkisar di angka 1,09 g/cm3
– 1,37 g/cm3
, sehingga dapat dilihat bahwa nilai bobot
isi pada hutan alam ≤ HTI. Untuk tekstur tanah, secara keseluruhan fraksi yang
mendominasi pada semua tipe lahan adalah fraksi pasir, yang mengakibatkan kelas
tanah pada penelitian ini hanya terdapat 3 kelas yaitu lempung berpasir, pasir
berlempung dan pasir.
Untuk nilai kadar air yang diperoleh juga bersifat relatif dimana pada hutan
alam berkisar 24,99% - 37,64% sedangkan pada HTI yaitu 10,95% - 31,41%, nilai
tersebut menunjukkan bahwa persentase kadar air hutan alam ≥ HTI. Dan untuk
nilai berat jenis partikel relatif yaitu hutan alam berkisar antara 2.03 g/cm
3
– 2,46
g/cm3
sedangkan HTI sebesar 2,13 g/cm3
– 2,56 g/cm3
, dapat dilihat bahwa nilai
berat jenis tanah hutan alam ≤ HTI. Kemudian nilai porositas tanah dalam
penelitian ini untuk lahan hutan alam adalah 54,07% – 60,10% dan HTI yaitu
46,48% – 48,83%, nilai persentase tersebut menunjukkan porositas pada lahan
hutan alam ≥ HTI.
Informasi Repositori
- Jenis
- Thesis
Detail Information
- Tahun
- 2024
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-11-25T04:39:46Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah